HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy Tuntaskan Legalitas, Siap Pimpin Ekspansi Besar Industri Rokok Global

SITUBONDO – Seorang pengusaha rokok asal Indonesia, HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, menegaskan kesiapannya memasuki fase besar ekspansi industri rokok nasional setelah merampungkan seluruh tahap awal legalitas usaha yang mencakup perusahaan rokok, tembakau, hingga distribusi.

Dalam keterangannya, Khalilur mengungkapkan bahwa perjalanan bisnisnya dimulai dari kepemilikan perusahaan rokok, gudang tembakau, dan pabrik rokok. Kini, struktur bisnis tersebut diperkuat dengan pembentukan tiga induk usaha utama, yakni perusahaan rokok, perusahaan tembakau, dan perusahaan distribusi.

Enam Induk Perusahaan Rokok
Pada sektor rokok, ia membangun enam induk perusahaan, dengan lima di antaranya telah menuntaskan proses legalitas, dan satu perusahaan bahkan telah memiliki pabrik rokok lengkap dengan seluruh fasilitas produksi. Satu induk perusahaan lainnya masih dalam proses perizinan. Keenam induk perusahaan tersebut menaungi berbagai merek strategis yang diproyeksikan menjadi tulang punggung ekspansi industri rokok nasional.

Dua Induk Perusahaan Tembakau dan Satu Distribusi
Di sektor hulu, Khalilur membentuk dua induk perusahaan tembakau yang fokus pada penguatan rantai pasok dan kesejahteraan petani. Sementara itu, di sektor hilir, ia mendirikan satu induk perusahaan distribusi untuk memastikan kelancaran logistik dan pemerataan distribusi produk ke seluruh wilayah Nusantara.

Dengan rampungnya aspek legalitas, Khalilur menyatakan bahwa persiapan tahap awal usaha telah selesai, dan fokus selanjutnya adalah ekspansi besar-besaran.

Gudang Tembakau dan Pabrik Rokok di Tiga Provinsi
Dalam rencana ekspansi tersebut, ia akan membangun 17 gudang tembakau raksasa di tiga provinsi serta 19 pabrik rokok berskala menengah hingga internasional. Gudang tembakau akan tersebar di wilayah sentra produksi tembakau, sementara dua pabrik rokok tambahan akan didirikan di kabupaten yang tidak memiliki gudang tembakau namun memiliki keunggulan industri.

Baca juga:  Tol Probolinggo–Besuki: Infrastruktur Modern untuk Mobilitas yang Lebih Cepat

Sinergi Konglomerasi dan UMKM
Tak hanya berorientasi pada skala besar, Khalilur menegaskan bahwa konsep usahanya memadukan model konglomerasi dengan pemberdayaan UMKM. Di sekitar 17 gudang tembakau yang akan dibangun, ia berencana membina sekitar 2.000 Perusahaan Rokok (PR) UMKM, masing-masing mempekerjakan sekitar 20 karyawan.

“Jika 2.000 PR UMKM itu berjalan, maka akan tercipta sekitar 40.000 lapangan kerja,” ujarnya.

PR UMKM tersebut akan difokuskan pada produksi maklun enam jenis rokok kretek, yang masing-masing menggunakan karakter tembakau khas Nusantara, mulai dari Virginia, Oriental, Burley, Besuki, Lumajang, hingga Srintil.

Menuju Pemain Global
Seluruh pabrik rokok skala besar akan dipadukan dengan jaringan PR UMKM tersebut, membentuk satu ekosistem industri rokok nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Khalilur optimistis, konsep ini akan melahirkan pengusaha rokok raksasa dari Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.

Konsep, strategi, dan rencana bisnis besar ini diselesaikan Khalilur dari kamar 1210 Sheraton Manila Bay, Manila, pada Ahad, 15 Maret 2026, pukul 12.24 waktu setempat. Ia menyebut seluruh rencana tersebut sebagai ikhtiar yang disertai doa agar membawa manfaat luas bagi bangsa dan negara.

Tulisan dan gagasan ini telah dibagikan melalui Facebook serta dirilis ke puluhan media daring, dengan harapan dapat menginspirasi masyarakat dan menumbuhkan kebanggaan sebagai warga Indonesia.

“Sudah saatnya petani tembakau Indonesia sejahtera, rokok Indonesia berjaya, dan Republik Indonesia jaya raya,” pungkasnya.

HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy

Founder & Owner
Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG GRUP)

banner 970250
error: